Senin, 17 Juni 2013

BBM Naik, Petani Menjerit

Foto Ilustrasi
Oleh: Abdu Faisal
BANDUNG, FOKUSJabar.com: Isu kenaikan BBM rupanya ikut mendapat perhatian petani, seperti yang dihimpun FOKUSJabar.com Senin (17/6). Maman (48), buruh tani di desa Bojongsoang kabupaten Bandung mengungkapkan, kenaikan BBM pasti akan berdampak pada harga pupuk di pasaran. “Harganya bisa naik sampai 20 persen juga,” katanya.


Selain harga pupuk, menurut Maman, peningkatan juga ada pada dana penggunaan traktor untuk membajak sawah. “Soalnya traktor kan memakai bensin.”

Maman menyesali kebijakan pemerintah jika kenaikan BBM benar-benar terjadi. Menurutnya, kenaikan BBM hanya akan menyengsarakan rakyat kecil, terutama petani. “Sekarang saja sudah susah, bagaimana nanti,” katanya. Apalagi menjelang Ramadhan, kondisi cuaca memburuk. Ini mengakibatkan banyak tanaman yang gagal panen. Di saat tidak menentu seperti sekarang, Maman dan petani yang lain hanya bisa menggantungkan nasib hasil panennya pada para tengkulak, atau yang biasa ia sebut Ijon.

“Kalau dijual ke Ijon, harganya stabil meskipun murah. Misalnya harga gabah di pasaran 350 ribu per kuintal. Di Ijon(baca: tengkulak) mau nampung cuma 250 ribu. Terserah nanti (kalau sudah panen) mau dijual berapa sama dia,” ujarnya. Menurut pengakuan Maman, penghasilan petani saat ini benar-benar sedikit kalau tidak boleh dibilang rugi.

“Ini karena banyak petani terpaksa menjual hasil panennya pada para tengkulak sebab tak punya modal lagi untuk mengurus lahan. Tengkulak-tengkulak inilah yang nanti menentukan harga, bukan petani,” kata Maman.

Maman kini sudah jengah dengan sikap pemerintah yang seolah-olah tak peduli dengan nasib kaum kecil seperti dirinya. “Saya hanya bisa pasrah, biarlah kaum berpendidikan yang berdemonstrasi,” katanya. Tapi Maman setuju dengan penolakan kenaikan BBM, “itu harus, biar pemerintah tidak semena-mena,” pungkasnya.

Tidak ada komentar: