Tulisan Tugas Kuliah Mahasiswa Komunikasi Terbaru:
Ada yang susah ngejawab materi UAS Mata Kuliah Deep Reporting (Penulisan Mendalam)? Check this out untuk mengetahui seluk-beluk dalam menghasilkan karya Deep Reporting. Saya yakin anda membutuhkannya...
- Jelaskan karakteristik laporan mendalam (depth reporting) untuk media cetak, televisi, dan radio !
- Apa perbedaan yang mendasar antara berita investigasi dengan laporan mendalam? Ajukan analisis anda bagaimana agar wartawan tidak terlanjur menulis berita investigasi ketika ditugaskan menulis laporan mendalam!
- Bagaimana teknik yang kita lakukan untuk mengembangkan tulisan dalam laporan mendalam sehingga menghasilkan laporan yang berkualitas?
- Bagaimana pola pembentukan tim dalam laporan mendalam lalu jelaskan fungsi dan tanggung jawab masing-masing anggota tim tersebut!
- Bagaimana seharusnya cara analisis sebuah data yang dilakukan wartawan agar bisa diperoleh sebuah berita yang valid dan akurat?
Jawab
1. Televisi
:
- Produksi berita televisi dilakukan sesuai SOP (standard operating procedure): Pra produksi, produksi, dan pasca produksi.
- Produksi berita televisi memanfaatkan audio visual seperti apa adanya dan tanpa manipulasi. Pengambilan gambarnya dilakukan ‘as it happen’ atau saat sebuah peristiwa sedang berlangsung
- Beberapa hal yang biasa dilakukan pada tahap pra produksi antara lain adalah riset dan daftar harapan atau WISHLIST. WISHLIST adalah daftar sejumlah hal yang diharapkan diperoleh tim liputan saat berada di lapangan. Salah satu unsur dalam WISHLIST adalah urutan VISUAL/SHOT LIST. VISUAL/SHOT LIST adalah urutan gambar yang diinginkan produser sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan bentuk sederhana dari STORYBOARD. Untuk sebuah laporan mendalam dengan durasi 30 menit, WISHLIST dibuat berdasarkan porsi dari liputan mendalam itu yang akan dilakukan keesokan harinya. Sehingga WISHLIST yang dibuat bisa lebih dari satu dan satu WISHLIST bisa melengkapi WISHLIST lainnya. Satu SEGMEN bisa dibuat dengan 4 atau 5 wishlist.
- Lama proses produksi tim liputan dalam sehari sekitar 9 jam. Jam bekerja itu sudah termasuk proses membuat ‘rough-cut’ atau edit kasar dari hasil liputan bagi campers dan skrip bagi reporter, sehingga memudahkan editor yang akan meng-edit hasil liputan. Skrip akan di-edit oleh produser dan audio visual akan di-edit oleh editor visual. Dengan demikian produksi di lapangan otomatis hanya sekitar 5 s/d 6 jam.
- Dalam proses pasca produksi, hasil liputan reporter diserahkan kepada produser. ‘Rough cut’ buatan campers diserahkan ke editor dan skrip diserahkan ke produser untuk diolah lebih lanjut menjadi tayangan yang koheren selama 30 menit. Untuk laporan mendalam selama 30 menit lama proses produksi (pra, produksi dan pasca produksi) bisa menghabiskan waktu 2 pekan atau 14 hari.
Media cetak
- Menyesuaikan diri dengan kaidah bahasa Jurnalistik yang benar, minimal tulisan dapat dimengerti pembaca dan tidak berbelit-belit.
- Mengungkap persoalan secara kronologis, mendalam, objektif, terungkap, dan teliti dari berbagai sudut pandang (tidak boleh satu).
- Suatu media massa cetak mengkaji berita mendalam dari berita langsung (straight news) yang terlebih dahulu diberitakan dalam media massa cetak yang sama.
- Terdapat rapat proyeksi (rencana kegiatan) dan rapat budgeting (pendalaman objek pencarian berita) sebelum tim diterjunkan ke lapangan.
- Redaktur sebagai kepala tim menentukan Terms Of Reference untuk tiap-tiap anggota tim (wartawan). Dibahas dalam rapat proyeksi.
Radio
- Proses penyebaran berita melalui pemancaran (transmisi) dan lebih ke arah audio nya.
- Menggunakan bahasa tutur. Langsung, kalimat mudah dimengerti (singkat, padat, sederhana, dan jelas.
- Memerlukan news script, yang pembuatannya sama dengan media massa cetak.
- Secara garis besar, proses penyampaiannya adalah seperti ini:
No
|
Pelaku
|
Audio
|
Keterangan
|
1.
|
Penyiar
|
SIAPA MENGATAKAN APA,
DIDUKUNG FAKTA/DATA..
Siapa mengatakan apa : Ribuan buruh
di Kabupeten Tangerang dan kota Tangerang, mengancam akan menutup akses jalan
tol Jakarta-Tangerang, menyusul kisruh penetapan upah minimum kabupten/kota
(UMK) oleh Gubernur Banten. Menurut koordinator Aliansi buruh dan Serikat
buruh Tangerang,Koswara, siang tadi menjelaskan aksi buruh akan
lebih besar dari yang terjadi beberapa hari yang lalu
|
Fakta yang diu raikan
(What is the News)
|
2
|
Operator
|
Insert:Koswara
”Aksi kami akan melebihi buruh di Bekasi ” |
Insert Audio
|
3
|
Penyiar
|
(Fakta) :Ancaman tersebut akan
di gelar, jika pada pertemuan 1 Februari di Kementerian Tenaga Kerja tak dihasilkan
kesepakatan. Buruh tetap menuntut para pengusaha menjalankan surat keputusan
Gubernur Banten tentang pemberlakuan UMK di Kabupaten Tangerang, Kota
Tangerang dan kota Tangerang Selatan.
|
Pemaparan masalah -
|
4.
|
(Fakta) Tidak hanya itu,
menurut Koswara, buruh juga menuntut agar asosiasi Pengusaha Indonesia
(Apindo), mencabut gugatan atas surat keputusan Gubernur di Pengadilan Tata
Usaha Negara (PTUN).
|
Detail - Rincian -
|
|
5
|
Penyiar
|
Ketua Apindo Bidang
Pengupahan, Hariadi B Sukandani, mengungkapkan bahwa para pengusaha
mengatakan revisi surat keputusan itu cacat hukum. Kalau soal besaran upah,
pihaknya bersedia berdialog.
|
Sisi/aspek Apindo.
|
6.
|
Penyiar
|
Kepala Biro Hukum
Propinsi Banten, Samsir, menyatakan siap menghadapi gugatan Apindo. Revisi
upah untuk tiga daerah di Banten oleh Gubernur dinilai sudah tepat.
|
Sisi/aspek Pemerintah
Daerah.
|
7.
|
Penyiar
|
Sementara itu Menteri
Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat mengecam aksi blokade jalan tol yang
dilakukan para buruh. Aksi tersebut bisa merusak iklam investasi di Indonesia
|
Sisi/aspek
perindustrian.
|
8.
|
Operator
|
Insert : Menteri Perindustrian: ”Sangat
kecewa dengan itu ”
|
Insert Audio
|
9.
|
Penyiar
|
Naraknya aksi buruh
menuntut kenaikan upah mendorong pemerintah segera menyempurnakan regulasi
penetapan upah minimum. Menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ,Muhaimin
berencana menetapkan upah minimum kabupten/kota dua tahun sekali. Pemerintah
dalam waktu cepat akan menuntaskan senua kebutuhan regulasi dalam hubungan
industrial.
|
Minor detail.
|
2. Depth
reporting mengangkat berbagai fakta untuk memberikan kontribusi pada pemahaman
terhadap sebuah kisah, selain itu depth reporting melakukan pemberitahuan
kepada pembaca inti kisah yang sesungguhnya secara mendalam (lengkap), seimbang
dan terorganisir dengan latar belakang, yang tidak begitu saja meninggalkan
pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, depth reporting memasuki sebuah
penyidikan (investigasi) tentang sesuatu yang sudah ada dengan orisinil, logis
dan memasukkan berbagai kepentingan yang membuat pembaca paham bukan kepada
siapa dan apa, melainkan kepada bagaimana dan yang terpenting ialah mengapa. Perbedaan
antara berita investigasi dengan depth reporting dapat dilihat dari
wartawannya, wartawan investigasi bekerja dengan ketidakjelasan materi liputan,
waktu peliputan membutuhkan waktu yang lama, membutuhkan kesabaran dan ketekunan,
serta imajinasi pada tiap hari pencarian fakta, wartawan investigasi seperti
mengalami penolakan, penghadang, dan kerap kecaman atau keadaan benar-benar
berbahaya, waktu deadline bukanlah esok atau hari-hari kemudian, melainkan
dapat berlangsung bulanan, sebagai sebuah pelaporan jurnalistik, investigasi
memiliki unsur kemendalaman sedangkan depth reporting mengandung unsur keluasan,
berita yang ditulis wartawan investigasi disusun secara mendalam dan depth
reporting menjadi salah satu cara atau alat bagaimana investigasi diliput dan
ditulis. Salah satu hal paling mendasar yang membedakan antara depth reporting
dan berita investigasi adalah ada atau tidak adanya hipotesis dalam penelusuran
tersebut. Dalam peliputannya, berita investigasi memakan waktu yang lebih lama
dari depth reporting. Selain itu depth reporting juga menjelaskan keterkaitan
dan perkembangan dari sebuah kisah yang terjadi, bukan bermaksud untuk
menemukan suatu kasus yang baru yang sama sekali belum diketahui oleh
masyarakat seperti dalam berita investigasi.
Seorang redaktur (ketua tim depth
reporting) ataupun anggota tim (wartawan) ketika mendapatkan data yang berlebih
harus pintar memilah mana berita yang relevan dan yang tidak. Jangan
segan-segan membuang data yang tidak perlu. Dalam sebuah berita pasti ada
‘pelaku utama’ dan ‘pemain figuran’. Jangan sekali-kali memberi porsi yang
besar pada ‘pemain figuran’ sehingga bisa menenggelamkan ‘pemain utama’.
Membuat outline sangat perlu untuk memudahkan tim dalam mengolah data. Outline
tersebut terdapat dalam Terms of Reference (media cetak dan radio) atau Wish
list (media televisi). Outline akan mengatur lalu-lintas informasi, dan membagi
permasalahan.
3. Sebuah laporan mendalam adalah karya
jurnalistik yang didapat dari pengembangan topik berita langsung. Pengembangan
itu bisa dari banyak segi, misalnya seperti contoh berita langsung yang dikutip
dari salah satu media cetak yaitu dari koran Kompas, Jum’at, 19 Maret 2010,
yang memuat tentang berita terorisme
yang bergerak di Aceh, berita ini menguak tentang kontak tembak antara
Polda NAD dengan sekelompok teroris yang
dilakukan oleh Abu Yusuf, salah seorang teroris yang berperan sebagai pimpinan
pelatihan menembak dan membaca peta kelompok teroris itu dikawasan pegunungan
Bun, Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
“Kontak tembak ini bermula dari sebuah sms yang dikirimkan oleh Abu
Yusuf di kawasan pegunungan Bun kepada seseorang di Solo, Jawa Tengah pada 27
Februari 2010, dimana sms ini berbunyi
“Tandzim Al-Qaidah Indonesia Cabang Serambi Mekah telah bertahan untuk
melanjutkan jihad terhadap musush-musuh Alloh : kaum Yahudi, Salibis, dan
Murtadin serta meminta musuh-musuh Alloh untuk segera meninggalkan tanah
Serambi Mekah”. Pesan singkat tersebut bukanlah hanya ancaman yang berisikan
gertakan sambal semata, hal ini dapat kita ketahui bahwa sepanjang Kamis (4/3)
lalu, belasan kali ambulans milik Kepolisian Daerah (polda) NAD bolak-balik
Banda Aceh-Lamkabeu, Aceh Besar untuk mengantar anggota polisi yang tertembak
dalam pengejaran kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Abu Yusuf itu. Kontak
tembak yang berlangsung tersebut menewaskan dua anggota Brimob Polda , seorang
warga sipil serta seorang anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror, sehingga esok
harinya Mabes Polri menyatakan bahwa kelompok bersenjata tersebut sangatlah
menguasai medan perang ini, mayat tiga polisi yang tewas itupun baru bisa
diambil dua hari kemudian karena aparat tidak berani mendekat ke lokasi kontak
tembak.”
Dalam pengembangan berita ini harus
terdapat beberapa pernyataan yang menyatakan bahwa ada alasan mengapa aceh
menjadi medan perang, bisa dikarenakan banyak alasan, alasan tersebut misalnya
antara lain aceh yang letaknya stategis, mayoritas masyarakat aceh adalah
muslim, dan Aceh memiliki sejarah mendukung pergerakan Darul Islam (DI) yang
diproklamirkan oleh SM Kartosuwiryo di Jawa Barat.
Berita yang telah sekilas dijelaskan
diatas tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu berita depth
reporting, bila berita tersebut menggambarkan kepada kita mengenai
keseluruhan apa yang terjadi dari kisah yang terjadi, disini terdapat
kelengkapan pengisahan serta terdapat kronologi peristiwa yang detail yang
memberikan gambaran secara jelas tentang berita tersebut kepada masyarakat.
Jika dijelaskan melalui unsur 5W+1H,
berita ini harus memenuhi unsur tersebut, Who (siapa)
menyatakan siapa saja yang terlibat dengan peristiwa, disini ialah teroris di
Aceh dengan Polisi Daerah (Polda) Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD), Where (dimana) menyatakan tempat kejadiannya
berlangsung , dalam berita ini kejadian berlangsung dikawasan pegunungan
Bun, Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Why (mengapa) menyatakan mengapa peristiwa tersebut terjadi dan sebab yang melatarbelakangi masalah tersebut yaitu diketahuinya teroris yang mengirim pesan singkat kepada seseorang dan Polisi Daerah mengetahuinya, What (apa) menyatakan peristiwa apa yang terjadi, disini dijelaskan yang terjadi adalah terjadinya kontak tembak antara Polisi Daerah (polda) Aceh Besar dengan teroris yang dipimpin oleh Abu Yusuf di daerah Aceh.
When (kapan) menyatakan waktu terjadinya, disini dijelaskan bahwa kontak tembak terjadi 22 Februari 2010, pernyataan ini berada pada kalimat “ Seorang anggota Brimob Polda NAD yang ikut dalam pengepungan itu sejak 22 Februari 2010 mengisahkan, pergerakan kelompok itu dipegunungan cukup sulit diikuti “ dan unsur teakhir yaitu How(bagaimana) yang menjelaskan bagaimana peristiwa tersebut terjadi, yang sudah dijelaskan diatas.
Depth reporting harus melakukan pemberitahuan kepada pembaca inti kisah yang sesungguhnya secara mendalam (lengkap), seimbang dan terorganisir dengan latar belakang, yang tidak begitu saja meninggalkan pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, didalam depth reporting ini hendaknya memasuki sebuah penyidikan tentang sesuatu yang sudah ada dengan orisinil, logis dan memasukkan berbagai kepentingan yang membuat pembaca paham bukan kepada siapa dan apa, melainkan kepada bagaimana dan yang terpenting ialah mengapa.
Begitulah kurang lebih bagaimana cara mengembangkan sebuah depth reporting.
Why (mengapa) menyatakan mengapa peristiwa tersebut terjadi dan sebab yang melatarbelakangi masalah tersebut yaitu diketahuinya teroris yang mengirim pesan singkat kepada seseorang dan Polisi Daerah mengetahuinya, What (apa) menyatakan peristiwa apa yang terjadi, disini dijelaskan yang terjadi adalah terjadinya kontak tembak antara Polisi Daerah (polda) Aceh Besar dengan teroris yang dipimpin oleh Abu Yusuf di daerah Aceh.
When (kapan) menyatakan waktu terjadinya, disini dijelaskan bahwa kontak tembak terjadi 22 Februari 2010, pernyataan ini berada pada kalimat “ Seorang anggota Brimob Polda NAD yang ikut dalam pengepungan itu sejak 22 Februari 2010 mengisahkan, pergerakan kelompok itu dipegunungan cukup sulit diikuti “ dan unsur teakhir yaitu How(bagaimana) yang menjelaskan bagaimana peristiwa tersebut terjadi, yang sudah dijelaskan diatas.
Depth reporting harus melakukan pemberitahuan kepada pembaca inti kisah yang sesungguhnya secara mendalam (lengkap), seimbang dan terorganisir dengan latar belakang, yang tidak begitu saja meninggalkan pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, didalam depth reporting ini hendaknya memasuki sebuah penyidikan tentang sesuatu yang sudah ada dengan orisinil, logis dan memasukkan berbagai kepentingan yang membuat pembaca paham bukan kepada siapa dan apa, melainkan kepada bagaimana dan yang terpenting ialah mengapa.
Begitulah kurang lebih bagaimana cara mengembangkan sebuah depth reporting.
4. Model pembentukan suatu tim pertama kali
diajukan oleh Bruce Tackman pada 1965. Teori ini dikenal sebagai salah
satu teori pembentukan tim yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain
setelah konsep ini dicetuskan. Teori ini memfokuskan pada cara suatu tim
menghadapi suatu tugas mulai dari awal pembentukan tim hingga proyek selesai.
Selanjutnya Tuckman menambahkan tahap kelima yaitu adjourning dan transforming
untuk melengkapi teori ini.
Tahap 1
– Forming
Pada
tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota tim
cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka
belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan
untuk merencanakan, mengumpulkan infomasi dan mendekatkan diri satu sama lain.
Tahap 2
– Storming
Pada
tahap ini tim mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka
hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah apa yang harus mereka
selesaikan, bagaimana fungsi mereka masing-masing dan model kepemimpinan
seperti apa yang dapat mereka terima. Anggota tim saling terbuka dan
mengkonfrontasikan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa
kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula beberapa tim yang mandek
pada tahap ini. Tahap storming sangatlah penting untuk perkembangan suatu tim.
Tahap ini bisa saja menyakitkan bagi anggota tim yang menghindari konflik.
Anggota tim harus memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada.
Tahap 3
– Norming
Terdapat
kesepakatan dan konsensus antara anggota tim. Peranan dan tanggung jawab telah
jelas. tim mulai menemukan haromoni seiring dengan kesepakatan yang mereka buat
mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota
tim mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat
kontribusi penting masing-masing anggota untuk tim.
Tahap 4
– Performing
Tim pada
tahap ini dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan
efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota tim
saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam
berkomunikasi. Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipatif. Keputusan
penting justru banyak diambil oleh tim.
Tahap 5
– Adjourning dan Transforming
Ini
adalah tahap yang terakhir dimana proyek berakhir dan tim membubarkan diri. tim
bisa saja kembali pada tahap manapun ketika mereka mengalami perubahan
(transforming). Misalnya jika ada review mengenai goal ataupun ada perubahan
anggota tim.
Dalam
membangun sebuah tim, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Memahami
dinamika kelompok dan prosesnya, serta apa implikasinya bagi pelaku dan praktek
supervisor.
- Menyadari
arti penting untuk mempengaruhi dan menetapkan norma kelompok sehingga mereka
mendukung bagi pencapaian hasil kerja yang baik.
- Memahami
pentingnya mendengarkan orang lain, bukan berpegang teguh pada posisi dan
pendapatnya
- Setiap
pribadi dalam tim memiliki latar belakang, nilai-nilai dan harapan
masing-masing. Suasana yang konstruktif bagi berlangsungnya sikap saling
mendukung dan upaya kerjasama akan tercipta melalui:
- Upaya mendorong anggota tim untuk memandang tim sebagai sumber gagasan, tehnik pelaksanaan, bantuan dan dukungan.
- Upaya mendorong tim untuk menyibukkan diri dengan berbagai usulan yang konstruktif.
- Mendorong anggota tim untuk berani mengambil inisiatif dan melakukan tindakan.
- Menjamin bahwa semua pertemuan dan diskusi formal yang dilakukan tim berlangsung efisien.
- Mendorong semua anggota untuk menuntaskan segala persoalan dan ketidaksepakatan secara terbuka dan konstruktif, bukannya menekan atau menghambatnya.
5. Seorang wartawan harus memiliki pola berpikir
lateral dalam setiap pengumpulan berita. Cara berpikir ini adalah cara berpikir
kreatif, mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang
paling mendukung hasil akhir suatu masalah. Prinsip dasar berpikir lateral
adalah setiap cara khusus untuk melihat sesuatu diantara banyak kemungkinan
cara lain.
Pola berpikir ini memperlihatkan bahwa bahan-bahan yang dirangkai memberikan satu sudut pandang yang dapat dirangkai. Titik beratnya tidak ditujukan pada usaha memecahkan masalah, tetapi pada lingkungan yang ada di sekitar masalah. Tujuan berpikir lateral adalah untuk mempermasalahkan setiap asumsi dalam berita.
Contohnya saja, kasus anak-anak yang suka hilang dari orang tuanya ketika berada di tempat keramaian. Dalam kasus ini, banyak pendekatan masalah yang tampak sebagai pemecahan masalahnya. Namun pada situasi lain, seorang wartawan mesti melakukan pendekatan untuk melukiskan suatu cara penanganan masalah yang paling sesuai diantara semua cara pemecahan masalah yang ada.
Dari kasus di atas, masalah banyaknya anak-anak yang tersesat melalui suatu pendekatan dari kumpulan data statistik, ternyata terungkap betapa banyak orang tua yang membawa anak-anaknya ke dalam kerumunan karena para orang tua tidak menghendaki anak-anaknya sendirian berada di rumah. Dengan pola berpikir lateral ini, seorang wartawan bisa menentukan angle dari suatu permasalahan untuk diberitakan.
Pola berpikir ini memperlihatkan bahwa bahan-bahan yang dirangkai memberikan satu sudut pandang yang dapat dirangkai. Titik beratnya tidak ditujukan pada usaha memecahkan masalah, tetapi pada lingkungan yang ada di sekitar masalah. Tujuan berpikir lateral adalah untuk mempermasalahkan setiap asumsi dalam berita.
Contohnya saja, kasus anak-anak yang suka hilang dari orang tuanya ketika berada di tempat keramaian. Dalam kasus ini, banyak pendekatan masalah yang tampak sebagai pemecahan masalahnya. Namun pada situasi lain, seorang wartawan mesti melakukan pendekatan untuk melukiskan suatu cara penanganan masalah yang paling sesuai diantara semua cara pemecahan masalah yang ada.
Dari kasus di atas, masalah banyaknya anak-anak yang tersesat melalui suatu pendekatan dari kumpulan data statistik, ternyata terungkap betapa banyak orang tua yang membawa anak-anaknya ke dalam kerumunan karena para orang tua tidak menghendaki anak-anaknya sendirian berada di rumah. Dengan pola berpikir lateral ini, seorang wartawan bisa menentukan angle dari suatu permasalahan untuk diberitakan.
Dalam menantang
asumsi, berarti menentang pentingnya batasan, dan berarti pula menantang
kebenaran secara individual. Sedangkan dalam berpikir lateral, umumnya tidak
ada pertanyaan yang menyerang asumsi yang salah. Dari pola berpikir yang
seperti ini, seorang wartawan akan mencari dan mengumpulkan data. Dimulai dari
tahap pengamatan (riset) dan wawancara, lalu dilanjutkan dengan mengolah
data-datanya.
Wawancara disini juga patut dipertimbangkan, apakah narasumber yang ditanya itu punya kapasitas yang baik atau tidak. Wartawan juga mesti memanfaatkan teori probabilitas dalam risetnya. Dengan menggunakan metode statistika, peluang benar-salahnya suatu data yang diterima dapat diperhitungkan. Ini berguna untuk semakin mengakuratkan berita. Intinya adalah cek dan ricek.
Pemeriksaan bisa menggunakan pembanding referensi, menanyakan ulang ke narasumber, mendatangi lokasi peristiwa, memutar balik pita rekaman, memeriksa foto, dan lain-lain. Teknik lain yang bisa dipakai dalam mengolah berita adalah teknik cover both story. Biasanya teknik ini dipakai untuk reportase terhadap konflik dua pihak.
Caranya adalah dengan mewawancarai kedua pihak dan disajikan dalam reportase yang berimbang. Pihak ketiga yang netral juga patut dipertimbangkan untuk menilai konflik yang terjadi untuk mengurangi bias diantara keduanya.
Wawancara disini juga patut dipertimbangkan, apakah narasumber yang ditanya itu punya kapasitas yang baik atau tidak. Wartawan juga mesti memanfaatkan teori probabilitas dalam risetnya. Dengan menggunakan metode statistika, peluang benar-salahnya suatu data yang diterima dapat diperhitungkan. Ini berguna untuk semakin mengakuratkan berita. Intinya adalah cek dan ricek.
Pemeriksaan bisa menggunakan pembanding referensi, menanyakan ulang ke narasumber, mendatangi lokasi peristiwa, memutar balik pita rekaman, memeriksa foto, dan lain-lain. Teknik lain yang bisa dipakai dalam mengolah berita adalah teknik cover both story. Biasanya teknik ini dipakai untuk reportase terhadap konflik dua pihak.
Caranya adalah dengan mewawancarai kedua pihak dan disajikan dalam reportase yang berimbang. Pihak ketiga yang netral juga patut dipertimbangkan untuk menilai konflik yang terjadi untuk mengurangi bias diantara keduanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar