Rabu, 30 Mei 2012

BULIR HARAPAN BOCAH PENCARI PASIR



Aldi seorang bocah dari keluarga kurang mampu yang tinggal di jalan Munawi RT 02/01 Dusun Panaruban, Kec. Kaligondang, Purbalingga, Jawa Tengah ini berjuang menghidupi Ibu beserta ketiga adiknya yang masih kecil. Ayah Aldi sudah 2 tahun merantau di kota untuk mencari nafkah, namun lagi lagi tuntutan hidup di kota dengan hasil yang pas-pasan membuat sang ayah tak mampu mengirimkan uang kepada keluarganya di kampung. 


Dibantu seorang teman seusianya, Aldi menjalani hari-harinya penuh dengan perjuangan di sungai klawing. Pasir sungai Klawing menjadi sumber rezeki bagi Aldi untuk membantu pendapatan keluarga, sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bangku sekolah pun pernah ia tinggalkan selama 2 tahun lantaran tak ada uang. 
Ibu Aldi pun tak tinggal diam, beliau berjuang hidup dengan pekerjaan serabutan. Dalam hatinya pasti sangat pedih dan tak tega melihat anak-anaknya sengsara, khususnya Aldi yang menjadi tulang punggung keluarga di usianya yang teramat dini.

Meskipun demikian Aldi tidaklah putus asa. Hidup serba mepet sedari kecil ini membuat Aldi menjadi bocah mandiri dan bertanggungjawab. Dibantu seorang kawan, Aldi menjalani hari-harinya penuh dengan perjuangan di sungai Klawing.

Pasir sungai Klawing menjadi sumber rezeki bagi Aldi untuk membantu pendapatan keluarga. Bangku sekolah pun pernah ia tinggalkan selama 2 tahun lantaran tak ada uang. Ia terus menambang pasir dari kali klawing untuk selanjutnya dijual. Dalam 2 sampai 3 hari, Aldi hanya mampu mengumpulkan satu gerobak yang dihargai 30 ribu rupiah. Itu pun harus dipotong dengan sewa gerobak 5 ribu rupiah, juga dibagi dua dengan temannya. Bahkan terkadang pembeli pun tak kunjung ada hingga lebih dari seminggu, sehingga membuat Aldi terpaksa menjual pasirnya kepada tengkulak dengan harga yang lebih murah tentunya. 

Memang sangat menyedihkan kehidupan Aldi, keluh kesah Aldi saat ia mengutarakankan bahwa dirinya bercita-cita menjadi pembalap, saat dia ingin sekali membelikan sandal untuk salah satu adiknya dengan uang 5 ribu rupiah sisa hasil kerjanya yang telah dibelikan beras tentu sangat memilukan. 

Terlebih saat dia bilang, “saya kasihan sama Ibu juga adik-adik saya, saya ingin membahagiakan mereka”. Suatu hal yang mungkin mustahil terlontar dari mulut anak seusianya di tempat lain bahkan di kampung-kampung sekalipun.

Aldi berkata kalau dia sering sedih karena diejek teman-temannya. Mereka bilang Aldi mainannya di kali terus. Para teman Aldi mungkin tidak tahu persis betapa sang Aldi sangatlah menderita dengan bekerja keras menghidupi dirinya sendiri beserta keluarganya. 

Terus semangat Aldi... Semoga dengan ketekunan dan kerja kerasmu kelak kamu akan jadi seorang yang sangat berguna bagi nusa dan bangsa. Amin...

Tidak ada komentar: