Aldi seorang bocah dari keluarga kurang mampu yang tinggal di jalan Munawi RT 02/01 Dusun Panaruban, Kec. Kaligondang, Purbalingga, Jawa Tengah ini berjuang menghidupi Ibu beserta ketiga adiknya yang masih kecil. Ayah Aldi sudah 2 tahun merantau di kota untuk mencari nafkah, namun lagi lagi tuntutan hidup di kota dengan hasil yang pas-pasan membuat sang ayah tak mampu mengirimkan uang kepada keluarganya di kampung.
Dibantu seorang teman seusianya, Aldi menjalani hari-harinya penuh dengan
perjuangan di sungai klawing. Pasir sungai Klawing menjadi sumber rezeki bagi
Aldi untuk membantu pendapatan keluarga, sekedar memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Bangku sekolah pun pernah ia tinggalkan selama 2 tahun lantaran
tak ada uang.
Ibu Aldi pun tak tinggal diam, beliau berjuang hidup dengan pekerjaan
serabutan. Dalam hatinya pasti sangat pedih dan tak tega melihat anak-anaknya
sengsara, khususnya Aldi yang menjadi tulang punggung keluarga di usianya yang
teramat dini.
Meskipun demikian Aldi tidaklah putus asa. Hidup serba mepet sedari kecil
ini membuat Aldi menjadi bocah mandiri dan bertanggungjawab. Dibantu seorang
kawan, Aldi menjalani hari-harinya penuh dengan perjuangan di sungai Klawing.
Pasir sungai Klawing menjadi sumber rezeki bagi Aldi untuk membantu
pendapatan keluarga. Bangku sekolah pun pernah ia tinggalkan selama 2 tahun
lantaran tak ada uang. Ia terus menambang pasir dari kali klawing untuk
selanjutnya dijual. Dalam 2 sampai 3 hari, Aldi hanya mampu mengumpulkan satu
gerobak yang dihargai 30 ribu rupiah. Itu pun harus dipotong dengan sewa
gerobak 5 ribu rupiah, juga dibagi dua dengan temannya. Bahkan terkadang pembeli pun tak kunjung ada hingga lebih dari seminggu,
sehingga membuat Aldi terpaksa menjual pasirnya kepada tengkulak dengan harga
yang lebih murah tentunya.
Memang sangat menyedihkan kehidupan Aldi, keluh kesah Aldi saat ia
mengutarakankan bahwa dirinya bercita-cita menjadi pembalap, saat dia ingin
sekali membelikan sandal untuk salah satu adiknya dengan uang 5 ribu rupiah sisa
hasil kerjanya yang telah dibelikan beras tentu sangat memilukan.
Terlebih saat dia bilang, “saya kasihan sama Ibu juga adik-adik saya,
saya ingin membahagiakan mereka”. Suatu hal yang mungkin mustahil terlontar
dari mulut anak seusianya di tempat lain bahkan di kampung-kampung sekalipun.
Aldi berkata kalau dia sering sedih karena diejek teman-temannya. Mereka
bilang Aldi mainannya di kali terus. Para teman Aldi mungkin tidak tahu persis
betapa sang Aldi sangatlah menderita dengan bekerja keras menghidupi dirinya
sendiri beserta keluarganya.
Terus semangat Aldi... Semoga dengan ketekunan dan kerja kerasmu kelak
kamu akan jadi seorang yang sangat berguna bagi nusa dan bangsa. Amin...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar